Pelindo Multi Terminal Tingkatkan Kesadaran Keselamatan di Pelabuhan

Aktivitas di area pelabuhan yang dinamis dan padat pergerakan alat berat menyimpan risiko tinggi, terutama dari titik-titik blind spot yang kerap luput dari perhatian. Kondisi ini berpotensi memicu kecelakaan kerja apabila tidak diantisipasi dengan pengawasan dan kesadaran yang kuat dari seluruh insan pelabuhan.


Sebagai bagian dari penguatan budaya keselamatan kerja, PT Pelindo Multi Terminal (SPMT), subholding PT Pelabuhan Indonesia (Persero) di bidang operasional terminal nonpetikemas, menggelar sesi Toolbox Meeting bertema “Kendalikan Blind Spot, Perkuat Pengawasan, Selamatkan Nyawa” pada Kamis (30/4/2026).


Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama untuk menegaskan kembali bahwa keselamatan kerja tidak hanya sebatas prosedur administratif, melainkan komitmen yang harus dijalankan secara nyata di lapangan.


Direktur SDM Pelindo Multi Terminal, Edi Priyanto, dalam sambutannya menekankan bahwa komitmen keselamatan harus dimulai dari hal paling mendasar dan konsisten dijalankan.


“Komitmen itu sederhana, misalnya hadir dan menjalankan tugas dengan disiplin. Namun yang lebih penting adalah implementasinya di lapangan melalui pengawasan yang nyata. Ini membutuhkan komitmen yang lebih lanjut,” ujarnya.


Ia menambahkan bahwa selama ini perusahaan telah melakukan berbagai upaya monitoring, mulai dari rekapitulasi hingga pemantauan indikator keselamatan. Namun, penguatan pada leading indicator menjadi kunci utama dalam upaya pencegahan kecelakaan.


“Keselamatan tidak bisa hanya bergantung pada prosedur atau perilaku semata. Kita harus masuk ke pengendalian yang lebih kuat melalui sistem dan engineering control yang didukung disiplin di lapangan. Keselamatan harus dijamin oleh sistem yang kita jalankan,” tegasnya.


Lebih jauh, Edi mengingatkan bahwa setiap kejadian fatal bukanlah sesuatu yang harus diterima, melainkan sesuatu yang bisa dan harus dicegah.


“Keselamatan adalah tanggung jawab kita bersama. Risiko seperti blind spot selalu ada di lapangan, dan itu harus kita kendalikan,” katanya.


Sementara itu, VP HSSE Pelindo Multi Terminal, Muhammad Haris, menjelaskan bahwa penguatan pengawasan di lapangan harus dilakukan tanpa kompromi.


“Aturan yang sudah ditetapkan harus dijalankan secara tegas dan konsisten. Salah satu bentuknya adalah Stop Work Authority. Jika ada kondisi tidak aman, komunikasi tidak jelas, atau area kerja tidak steril, setiap pekerja berhak menghentikan pekerjaan,” jelasnya.


Ia juga menyoroti pentingnya disiplin dalam mengoperasikan alat, khususnya dalam kondisi blind spot.


“Jangan pernah menggerakkan alat berdasarkan asumsi. Pastikan area aman, ada komunikasi dua arah, dan supporter terlihat jelas. Tanpa itu, potensi blind spot tetap ada dan sangat berbahaya,” tambahnya.


Melalui kegiatan ini, perusahaan mendorong seluruh pekerja untuk lebih aktif membaca situasi, melaporkan potensi bahaya, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan kerja. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat budaya keselamatan yang tidak hanya reaktif, tetapi juga preventif. Pelindo Multi Terminal menegaskan bahwa keselamatan kerja adalah fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan operasional pelabuhan, sekaligus melindungi setiap insan yang terlibat di dalamnya.


Dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap blind spot dan memperkuat pengawasan di lapangan, perusahaan optimistis dapat menekan risiko kecelakaan dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman.