PT Pelindo Multi Terminal (SPMT), Subholding PT Pelabuhan Indonesia (Persero) yang bergerak di bidang operasional terminal nonpetikemas, menegaskan komitmennya dalam memperkuat penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai bagian dari budaya perusahaan. Keselamatan diposisikan sebagai identitas dan nilai dasar yang harus melekat dalam setiap aktivitas kerja, bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan, melainkan cara berpikir dan bertindak seluruh insan perusahaan dalam menjalankan operasional.
Direktur SDM Pelindo Multi Terminal, Edi Priyanto, menegaskan bahwa keselamatan harus tercermin dalam kebiasaan sehari-hari, baik di lingkungan kerja maupun dalam kehidupan.
“Keselamatan harus menjadi identitas dan nilai dasar kita, bukan hanya patuh pada aturan, tetapi bagaimana setiap keputusan dan tindakan selalu berangkat dari cara yang aman dan selamat. Penting juga bagi kita untuk melihat keselamatan secara utuh, mencakup aspek fisik, mental, dan emosional, agar setiap insan perusahaan dapat pulang ke rumah dengan selamat dan sehat,” terang Edi Priyanto.
Sejalan dengan komitmen tersebut, penguatan budaya K3 juga ditegaskan dari sisi implementasi di lapangan. Emanuel Eko Haryanto, seorang HSSE Trainer, menjelaskan bahwa K3 harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap aktivitas kerja. Menurutnya, semakin sering K3 dibahas, semakin kuat kesadaran bahwa keselamatan bukan pekerjaan tambahan, melainkan bagian dari cara bekerja yang harus menjadi budaya atau sebuah nilai.
Emanuel menyoroti risiko yang sering dianggap sepele, seperti terpeleset, tersandung, dan jatuh (slip, trip, and fall), namun memiliki dampak besar. Ratusan kejadian near miss, puluhan cedera, hingga hilangnya ratusan hari kerja menunjukkan bahwa kecelakaan kerja bukan hal ringan. Selain membahayakan pekerja, kecelakaan juga berdampak pada produktivitas dan menimbulkan kerugian bagi perusahaan.
“Sebagian besar kecelakaan dipicu oleh faktor manusia dan kondisi tidak aman. Oleh karena itu, K3 tidak cukup dijalankan melalui aturan, tetapi harus mendorong perubahan perilaku. Ia menekankan pentingnya membangun ekosistem K3 yang andal melalui tiga pilar utama, yaitu peralatan yang aman, sistem dan prosedur yang jelas, serta perilaku pekerja yang berbudaya keselamatan,” jelas Emanuel.
Emanuel mengajak seluruh insan Pelindo Multi Terminal untuk berkomitmen membangun safety culture sebagai DNA organisasi. Hal ini dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti memastikan kondisi fit to work, menggunakan alat pelindung diri, melaporkan near miss, dan saling mengingatkan. Dengan menjadikan keselamatan sebagai kebiasaan sehari-hari, diharapkan seluruh pekerja dapat bekerja dengan aman, sehat, produktif, dan pulang ke rumah dengan aman dan selamat agar tercipta ekosistem K3 yang andal dan berkelanjutan.
“Keselamatan bukan tentang menunggu sampai ada korban. Hampir selamat bukanlah selamat. Justru ketika masih near miss, ketika masih ada perilaku dan kondisi tidak aman, di situlah kita harus bertindak. Safety culture akan hidup ketika kita berani saling mengingatkan, peduli, dan menjadikan keselamatan sebagai bagian dari pekerjaan, bukan sebagai beban. Karena satu insiden saja sudah terlalu banyak, target kita adalah nol kecelakaan dan nol penyesalan,” pungkas Emanuel.
Penguatan komitmen budaya K3 ini semakin ditegaskan melalui Safety Forum x BREATH (Balancing, Resilience, Energy, and Health) Session Edisi Januari Series 28 bertajuk “Safety Culture sebagai DNA Ekosistem K3 yang Andal” yang selenggarakan pada Senin (26/1) yang diikuti oleh seluruh pekerja dalam rangka memperingati Bulan K3 Nasional. Melalui forum ini, Pelindo Multi Terminal meneguhkan keselamatan sebagai nilai bersama dan bagian dari identitas perusahaan, sekaligus mendorong seluruh insan perusahaan untuk berperan aktif membangun budaya K3 demi terciptanya lingkungan kerja yang aman, sehat, produktif, dan berkelanjutan.
